Menikah memang menjadi salah satu tujuan bagi manusia. Karena dengan menikah, manusia dapat menemui sekian problem dan cara bersikap lebih dewasa yang tidak didapat ketika jenjang pernikahan belum ditunaikan. Barangkali juga, menikah menjadi salah satu sarana untuk menguji, seberapa layakkah ia menjadi manusia? Tetapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang menganggapnya sebagai ajang untuk bersenang-senang.

Berbicara tentang menikah, beberapa waktu lalu saya mendengar banyak ratapan kebingungan dari teman saya. Bukan karena ia tidak mau menikah. Tetapi ia bingung antara keinginannya untuk melanjutkan studi perguruan tinggi sampai jenjang doktor dengan menikah terlebih dulu lepas rampung kuliahnya di jenjang magister. Sementara ia sendiri telah menjalin asmara dengan kekasihnya terhitung sejak sekolah menengah pertama.

Ratapan itu membuat saya berkhutbah tentang pernikahan. Pertama-tama saya mengutip sabdanya Kanjeng Nabi Muhammad Saw bahwa, menikah itu menjadi sunnahnya, karena Kanjeng Nabi sendiri juga menikah. Selain itu menikah juga menjadi langkah dari separo sempurnanya ajaran muslim.

Kemudian saya juga mengutip pernyataan filsuf kenamaan, Socrates. Kata Socrates, manusia mesti menikah. Jika ia mendapat pasangan yang cocok dengannya, maka ia akan bahagia. Sebaliknya, jika ia mendapat pasangan yang tidak sefrekuensi dan rumah tangganya melulu diliputi seteru, maka ia akan menjadi filsuf.

Baca juga nih: 12 Rekomendasi Terbaik Wisata Pantai Hits Gunung Kidul Yogyakarta

Belum cukup dengan itu, saya kembali memberinya khutbah berdasarkan pada cerita pendeknya Hamsad Rangkuti berjudul “Muntah” yang menjadi salah satu karya di antologinya “Lukisan Perkawinan” (1982). Kali ini saya bercerita agak panjang.

Cerpen itu memang menceritakan perjalanan asmara antara dua manusia dari sisi gesernya makna pengorbanan sebelum dan sesudah menikah. Si pemuda ‘Aku’ yang jatuh cinta dengan Wien membuatnya berkorban melebihi dirinya sendiri. Si Wien sendiri melulu menguji derajat cinta dan kesetian si ‘Aku’.

Ujian yang dimaksud persis dengan judul cerpennya, “Muntah”. Saya rasa siapa saja memiliki bayangan yang menjijikkan mengenai muntah, baik sebagai pelaku maupun pelihat ketika ada orang yang tengah muntah. Tetapi muntah ini malah menjadi wujud konkret keberhasilan cintanya si ‘Aku’ kepada Wien, perempuan yang dikaguminya.

Ceritanya ketika dalam perjalanan piknik ke Kebun Raya Bogor, Wien mengalami masuk angin dan mabuk darat. Raut wajahnya pucat, dahinya berkeringat. Si ‘Aku’ melihat seperti ada yang hendak dikeluarkan dari mulut Wien dan ternyata, “Uuuaaakkk…”. Dalam sekejap si ‘Aku’ langsung menengadahkan kedua telapak tangannya untuk menampung muntahan dari Wien.

Orang yang melihat kejadian itu tentu saja bisa ditebak; menutup hidung, memalingkan muka, dan mengambil jarak untuk tidak mendekat ke kedua pasangan itu. Orang-orang merasa jijik, tetapi tidak dengan si ‘Aku’.

Meskipun Wien sendiri mempertanyakan kepada si ‘Aku’, kenapa ia mau melakukan itu? Dengan jawaban yang dibubuhi kisah percintaan tahun 80-an, si ‘Aku’ mengatakan bahwa perbuatan itu sebagai wujud besar dan kesungguhan cintanya kepada Wien.

Maka acapkali Wien merasa mau muntah, ia tidak mau memuntahkannya di kresek atau tempat lain, ia hanya ingin muntah di tangannya si ‘Aku’. Ia juga tidak malu jika muntah di depan umum dengan banyaknya sorot pandangan mata yang jijik. Wien semakin mencintai si ‘Aku’ lantas menikah.

Nah masa pernikahan dilalui keduanya dengan gembira. Sampai saat Wien mengandung dan lazimnya orang mengandung yang merasa mual-muntah, Wien pun memuntahkannya di kamar mandi namun tidak ia siram. Saat si ‘Aku’ masuk ke kamar mandi lantas melihat banyak muntahan di dalamnya, si ‘Aku’ pun marah.

Kemarahannya itu digugat oleh Wien dengan tanya, apakah rasa cintanya sudah berkurang? Dari sini si ‘Aku’ tertegun dan meyakinkan kembali jika ukuran cintanya hanya dengan menampung muntahannya, maka ia mengizinkan Wien muntah sepuasnya di tangannya. Hanya saja kali ini si ‘Aku’ merasa jijik melihat muntahan Wien di tangannya yang terasa hangat.

Saat saya bercerita tentang cerpen “Muntah” ini, teman saya hanya manggut-manggut. Mungkin ia membayangkan bakal ada gesekan dan pergeseran makna cinta yang pelan-pelan juga akan dialami di dalam rumah tangganya kelak.

Kebingungan teman saya itu urung peroleh jawaban ketika ia menyudahi cerita. Saya sendiri pun merasa heran dengan banyaknya ucapan yang saya utarakan, dari Kanjeng Nabi, Socrates, dan cerpennya Hamsad Rangkuti yang muatannya sesak berjejal tentang pernikahan, tetapi saya sendiri belum memutuskan kapan untuk menggelar hajatan pernikahan. Hehehe.

*Baca juga esai-esai menarik di Platform Media Opini & Esai kotomono