Sosiologi Komunikasi Massa

Sosiologi Komunikasi Massa

Sosiologi Komunikasi Massa

Sejarah Komunikasi Massa

Secara historis, cikal bakal ilmu komunikasi telah dipelajari sebagai bagian dari sosiologi di Jerman dan telah dimasukkan ke dalam jurusan bahasa Inggris di Amerika. Sejak dulu hingga saat ini, banyak ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu telah berkontribusi dalam ilmu komunikasi. Ini termasuk Harold D. Lasswell (ilmu politik), Max Weber, Daniel Lehner, Everet M. Rogers (sosiologi), Carl I. Hovland, Paul Lazarsfeld (psikologi), Wilburn Schramm (bahasa), Shannon dan Weaver (matematika dan teknik) ). .

Eklektisisme ilmu komunikasi sebagai bidang kajian memang telah menimbulkan kearifan tersendiri, yakni memaparkan berbagai teori dan konsep komunikasi tentang komunikasi. Fisher (1986) merangkum konsep-konsep komunikasi dalam empat perspektif, yaitu: Mekanistik; Psikologi; Interaktif; Pragmatis. Pengaruh konsep fisik sangat terlihat dari sudut pandang mekanistik. Kemudian pengaruh psikologis paling jelas terlihat dalam perspektif psikologis, yaitu pengembangan perspektif mekanistik dengan menerapkan teori S-R (stimulus-respon). Sedangkan pengaruh sosiologi muncul dalam perspektif interaksi (dari teori interaksi simbolik) dan perspektif pragmatis (dari teori sistem).

Studi komunikasi di tanah air dimulai dengan nama Jurnalistik, dengan dibukanya Jurusan Publisitas pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada pada tahun 1950. Juga pada Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada tahun 1959. Juga pada tahun 1960 Pajajaran Bandung membuka Fakultas Jurnalistik dan Hubungan Masyarakat di Universitas. Dalam proses yang panjang, keputusan presiden (Keppres) no. 107/82 tahun 1982 lahir. Keputusan presiden ini membawa nama disiplin ilmu ini menjadi ilmu komunikasi.

Beberapa tokoh yang berkontribusi dalam pengenalan ilmu komunikasi di Indonesia dan kemudian perkembangannya di universitas adalah: drs. Marbangun, Sundoro, prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro dan prof. dr. Mustopo. Pada tahun 1960-an kisaran angka ini diperluas dengan masuknya dua orang ahli di bidang ilmu komunikasi, yaitu dr. Phil., Sekali lagi diperluas. Astrid S. Susanto dari Jerman Barat (1964); dan dr. M. Alwi Dahlan (diajar langsung oleh Wilbur Schramm) dari Amerika Serikat (1967).

 

Memahami komunikasi dan komunikasi massa

Setiap masyarakat membutuhkan sarana dan metode komunikasi. Untuk memenuhi kebutuhan interaksi yang bersifat interpersonal dan terpenuhi melalui kegiatan komunikasi interpersonal atau antarpribadi. Sedangkan kebutuhan untuk berkomunikasi di depan umum dengan banyak orang dipenuhi melalui kegiatan komunikasi massa.
Komunikasi dengan demikian menjadi elemen penting dalam pengelolaan suatu masyarakat. Tindakan komunikatif tidak hanya merupakan kebutuhan tetapi juga merupakan elemen yang membentuk masyarakat. Karena tidak mungkin manusia hidup dalam suatu lingkungan tanpa saling berkomunikasi.

Proses dan model komunikasi massa, yang didefinisikan sebagai komunikasi massa, adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak massa melalui saluran media massa. Jadi komunikasi massa bukan hanya media massa. Media massa hanyalah salah satu faktor yang membentuk proses komunikasi massa, yaitu sebagai instrumen atau saluran.

Komunikasi massa memiliki karakteristik yang berbeda dengan bentuk komunikasi lainnya. Ciri-ciri tersebut tampak pada pelaku komunikasi, pengalaman komunikasi masing-masing pelaku serta isi informasi yang disebarluaskan melalui proses komunikasi.

Kajian sosiologi komunikasi massa Kajian sosiologi komunikasi massa

Kajian sosiologis tentang fenomena komunikasi massa belum sepenuhnya berkembang seperti yang diharapkan. Penyebab utamanya antara lain terletak pada luasnya masalah itu sendiri, serta adanya orientasi ganda atau isu yang mendominasi kajian masalah ini di masa lalu. Tema yang dominan adalah dampak langsung media massa terhadap individu dan publik, dan pada apa yang disebut masyarakat massa dan budaya.

 

Pendekatan dalam kajian sosiologi komunikasi massa

Sosiologi komunikasi massa harus mengkaji secara mendalam persoalan-persoalan besar yang begitu jauh jangkauannya berkenaan dengan interaksi media massa dengan komunitas media massa dengan lembaga-lembaga sosial lainnya dan sistem komunikasi massa dengan sistem-sistem sosial lainnya. Kecuali tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Seharusnya sosiologi komunikasi massa mengkaji secara mendalam masalah-masalah pokok yang begitu luas, mengenai interaksi media massa dengan masyarakat media massa dengan institusi sosial yang lain, dan sistem komunikasi massa dengan sistem-sistem sosial lainnya. Selain dengan tatanan masyarakat secara keseuruhan.

1. Riset yang memetakan secara ditail pola yang menyeluruh dari perilaku komunikasi baik bagi seperangkat individu maupun lokasi tertentu.
2. Riset yang berkenaan dengan hubungan (relationshp) antara model komunikasi.
3. Riset yang berkenaan dengan distribusi kebutuhan komunikasi
4. Riset yang lebih memperhatikan masalah bahasa komunikasi selain lisan dan tulisan
5. Riset yang secara sistematik menggali dan memonitor sistem pengawasan dan pengendalian serta pemilikan faislitas-fasilitas komunikasi.

Sumber Rangkuman Terlengkap : SeputarIlmu.Com