Beberapa waktu lalu, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia atau dikenal dengan sebutan GINSI mendorong pengembangan dan optimalisasi Pusat Logistik Berikat (PLB) yang ada di kawasan Jakarta Utara, tepatnya di Marunda Cilincing.

Keberadaan PLB ini dinilai efektif dalam menekan biaya logistik nasional sehingga lebih optimal dan efisien. Untuk mengetahui efektivitas PLB dalam optimalisasi Pusat Logistik, mari simak ulasan berikut ini.

Pengertian Pusat Logistik Berikat

Biaya logistik nasional Indonesia memang masih tergolong tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya yang ada di kawasan Asia Tenggara dibuktikan dari persentase biaya logistik PDB (Produk Domestik Bruto) yang mencapai 29%.

Karena masalah inilah, pemerintah Indonesia mencetuskan ide dengan membangun PLB. PLB adalah gudang multifungsi yang digunakan untuk menyimpan barang dengan penundaan bea masuk dan pajak impor selama 3 tahun.

Kehadiran PLB diharapkan bisa membantu mengurangi biaya logistik dan transportasi. Dilengkapi dengan quality control, PLB dapat membantu industri besar maupun industri kecil menengah untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor secara optimal agar lebih kompetitif.

Tidak hanya itu saja, kehadiran PLB juga turut mendukung pertumbuhan dan perkembangan industri domestk, meningkatkan investasi baik lokal maupun asing, dan memberi dukungan bagi Indonesia untuk menjadi pusat logistik di kawasan Asia Pasifik.

PLB menyediakan beberapa layanan seperti warehousing, stripping & stuffing, inventory control. Trucking, dan keamanan selama 24 jam. PLB juga menawarkan sejumlah keunggulan seperti penangguhan bea masuk dan pajak impor barang masuk, fleksibilitas masa simpan, dan lain-lain.  

Dampak Optimalisasi PLB terhadap Logistik Indonesia

Menurut pendapat Erwin Taufan selaku Wakil Ketua Umum GINSI, keberadaan PLB ini dinilai efektif dalam upaya menekan biaya logistik nasional Indonesia yang terbilang tinggi. Kehadiran PLB juga berdampak pada pergerakan arus logistik yang ada di pelabuhan Tanjung Priok.

Selain itu, PLB juga membantu menekan dwelling time atau waktu singgah barang di pelabuhan. Dengan adanya fasilitas yang diberikan PLB, maka dapat membantu memangkas mata rantai logistik dengan cara mensinergikan stevedoring (bongkar muat), transportasi, dan pergudangan.

Fasilitas lain dari PLB yaitu fasilitas fiskal berupa penangguhan bea masuk, pembebasan pajak impor, dan PPN atas barang yang masuk ke dalam negeri. Karena hal tersebut, maka tidak heran jika importir mendorong pemerintah melakukan optimalisasi terhadap pusat-pusat logistik alias PLB.

Dengan hadirnya kebijakan Pusat Logistik Berikat, biaya logistik dan transportasi memang menjadi lebih efisien. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jelas mengenai PLB, Anda bisa cek website https://www.iiie.co.id/ sekarang juga!